Mengkaji Bacaan Anak Bilingual

Bacaan Anak Bilingual: Tekstual dan Visual 

Handout Ary Nilandari untuk workshop Editor Buku Anak dengan IKAPI DKI Jakarta, 4-5 Juni 2013, Perpustakaan Nasional Jakarta

Dalam dasawarsa terakhir, bilingual seakan menjadi keharusan dalam menerbitkan bacaan anak di Indonesia. Bahasa Inggris, Arab, dan Mandarin dipasangkan dengan bahasa Indonesia. Tetapi karena yang paling sering adalah bahasa Inggris, untuk selanjutnya, bilingual yang dimaksud adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Motif mem-bilingual-kan bacaan anak sangat beragam. Antara lain:

  1. Memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia
  2. Memberi nilai tambah pada bacaan anak.
  3. Merespons kebutuhan orangtua untuk membantu anak-anak belajar bahasa Inggris.
  4. Menjangkau pasar lebih luas, yaitu anak-anak warga negara asing yang tinggal di Indonesia dan anak-anak Indonesia yang tinggal di negara-negara berbahasa Inggris.
  5. Memudahkan penjualan copyright ke mancanegara.
  6. Dan diharapkan meraup keuntungan lebih banyak ketimbang buku monolingual

Apapun alasannya, tentu saja mendwibahasakan bacaan anak harus melalui kontrol kualitas ganda, dan tidak sesederhana yang dibayangkan. Bilingual bukan sekadar proses pengalihan teks dari bahasa pertama ke bahasa kedua. Bahasa adalah produk budaya, menggunakan bahasa kedua berarti juga mengakui dan mengakomodasi budaya yang dibawanya. Itu berpengaruh besar pada cara penyampaian isi. Dan karena bacaan anak yang dibilingualkan biasanya berformat buku bergambar, maka penyajian visual juga harus benar-benar diperhatikan.

Pengamatan terhadap bacaan bilingual yang beredar di pasaran umumnya menimbulkan keprihatinan, antara lain:

  1. Teks awal dalam bahasa Indonesia sendiri ada yang kurang memenuhi syarat sebagai bacaan yang baik, dari aspek isi dan kebahasaan.
  2. Penggunaan ungkapan bahasa Inggris yang keliru, tidak tepat menyampaikan makna yang dimaksud bahasa Indonesia-nya; dan dengan wordlist yang tidak tepat untuk usia target pembaca.
  3. Struktur kalimat bahasa Inggris yang tidak lazim atau salah. Biasanya karena penerjemahan harfiah dari kalimat bahasa Indonesia yang juga tidak efektif.
  4. Layout teks dua bahasa yang tidak memperhatikan estetika, mengganggu harmoni antara ilustrasi dan teks dalam picture book. Timbul kesan bahwa buku tidak didesain dengan baik dari awal.
  5.  Ketidakefektifan pengajaran bahasa Inggris melalui bacaan bilingual. Karena seperti yang diakui banyak orangtua, anak-anak hanya membaca salah satu bahasa, dan biasanya bahasa Indonesia. Orangtua yang menguasai bahasa Inggris merasa terganggu dengan permasalahan bacaan bilingual di atas. Sebaliknya, orangtua yang tidak memahami bahasa Inggris tidak dapat membantu meningkatkan kemampuan berbahasa anak dengan hanya memberikan bacaan bilingual. Ada cara-cara penggunaan tersendiri bagi orangtua dan guru agar bacaan bilingual bisa efektif.

Alangkah baiknya jika penerbit dapat berhenti sejenak untuk mengevaluasi konsep bacaan anak bilingual yang diterbitkannya. Apa sebetulnya yang ingin dicapai dan tercapaikah tujuan itu? Apakah dapat dipertanggungjawabkan secara moral terhadap konsumen, terutama anak-anak yang menjadi target pembaca? Jika penerbit ingin meningkatkan kualitas produknya, tak ada cara lain kecuali meningkatkan kontrol kualitas pada setiap tahapan produksi buku anak. Penulis, penerjemah, editor, layouter, desainer, dan ilustrator, meningkatkan kapasitas pribadi dan bekerja sama untuk menyuguhkan yang terbaik. Dan sangat disarankan untuk melibatkan proofreader yang menguasai dua bahasa dengan baik (bahkan native speaker) dan berwawasan luas dalam dunia bacaan anak.

Sesi Bedah Bacaan Anak Bilingual ini bertujuan menunjukkan fenomena buku-buku bilingual yang sudah beredar di pasaran. Sebuah stimulus untuk perbaikan dan peningkatan karya lokal.

Evaluasi terhadap konsep bacaan anak bilingual semakin penting ketika dikaitkan dengan tujuan merambah pasar mancanegara. Indonesia akan menjadi guest of honour di Frankfurt Bookfair 2015. Keikutsertaan delegasi Indonesia di kongres dan konferensi internasional tentang bacaan anak setahun terakhir, bahkan menunjukkan potensi besar Indonesia yang dapat digali dan ditawarkan kepada dunia.

Tak ada ruang lagi untuk kesalahan berbahasa dan produk yang terkesan tidak dirancang dengan matang. []

 

Bilingual, Perlukah?

(Note Ary Nilandari di grup Forum Penulis Bacaan Anak)

Tidak perlu:

Kalau tujuannya adalah pembelajaran bahasa Inggris untuk anak-anak. Meletakkan teks bahasa Inggris di samping, di bawah, atau di dekat bahasa Indonesia akan menimbulkan efek samping “menerjemahkan” secara harfiah, dan berarti pembelajaran tidak tercapai. Karena anak belajar bahasa asing secara efektif melalui listening, speaking, reading, dan writing single language (secara berturut-turut). Bukan dari translating dan comparing duluan, yang merupakan tahap tertinggi dan tersulit.

Kalau tujuannya sekadar mengikuti trend, dengan asumsi bilingual picture book lebih laku. Penerbit tidak bisa membuktikan bilingual lebih laku. Hasil penjualan bilingual di beberapa penerbit juga tidak sebagus perkiraan. Selain itu, banyak orangtua mengakui dua bahasa sebetulnya tidak efektif. Paling yang dibaca hanya salah satu.

Kalau space halaman picbook terbatas, kalau layout dan desain kurang optimal,yang akan terjadi adalah buku jadi crowded dengan tulisan dwibahasa. Yang sering terjadi ilustrasi menjadi korban. Harmoni terganggu.

Kalau penerjemahan dilakukan dengan sembarangan. Karena menulis cerita dalam dua bahasa berbeda harus mengikuti struktur masing-masing, harus dengan pola pikir dan kerangka budaya bahasa masing-masing, jadi mestinya teks bukan diterjemahkan, tetapi ditulis ulang. Dalam bahasa Inggris, artinya kita harus berpikir dengan pola pikir native untuk menulis cerita, yang bisa jadi akhirnya tidak apple to apel dengan bahasa Indonesianya.

Karena kata dua pakar:

Anak-anak TK dan SD kelas rendah sebaiknya diberi bacaan yang berbahasa Inggris saja. ‘Bahaya’ bacaan bilingual adalah mereka bisa mendapatkan informasi yang salah, jika kedua bahasa tidak diperhatikan dengan baik.” (DR. Murti Bunanta SS, MA. Spesialis Sastra Anak, Ketua Kelompok Pencinta Bacaan Anak)

“Bacaan bilingual sebagai bahan pelajaran bahasa Inggris untuk anak adalah konsep yang keliru, karena dimulai dengan tahap tersulit, yaitu menerjemahkan. Ditambah kesalahan penerjemahan dan kosa kata yang tidak sesuai, bacaan bilingual semakin tidak efektif.” (Nasti M. Reksodiputro, M.A. Mantan dosen bahasa Inggris,  kepala Pusat Bahasa Universitas Indonesia, Pendiri Yayasan Pustaka Kelana)

Sebaliknya, bisa dianggap perlu (if and only if): 

  1. Untuk tujuan menjual copyright ke mancanegara. Itupun tak perlu bahasa Indonesia disertakan. Cukup bahasa Inggris saja.
  2. Untuk pembelajaran bagi anak-anak yang bahasa aslinya adalah Inggris, dan mereka ingin belajar bahasa Indonesia. Walapun ini juga cukup bahasa Indonesia saja.
  3. Untuk pembaca yang sudah dari awal punya basis kuat di dua bahasa. Misalnya anak-anak Indonesia yang tinggal di negara berbahasa Inggris.
  4. Kalau tata letaknya diperhatikan benar. Bu Nasti menyarankan salah satu bahasa hanya digunakan untuk ringkasan cerita dan glosarium di belakang buku. Tidak berdampingan.
  5. Kalau secara visual tidak mengganggu harmoni.
  6. Kalau penulisan cerita dua bahasa benar-benar diperhatikan dan disupervisi oleh native speakernya, sehingga bahasa yang digunakan sesuai konteks.

Jadi apakah harus bilingual buku Anda? Anda bisa mempertimbangkannya sendiri. Be wise.

——————————————-

Catatan:

Untuk menulis artikel ini, aku mempelajari sekitar 80 buku bacaan anak bilingual dari berbagai penerbit. Contoh-contoh kasus yang kutemukan hampir di semua buku itu sudah disampaikan kepada para editor penerbit yang hadir dalam workshop.

Advertisements

4 thoughts on “Mengkaji Bacaan Anak Bilingual

  1. Tulisan bunda peri ini membuka mata saya ternyata buku bilingual itu tidak penting ya jika untuk mengajarkan bahasa Inggris ya. Terima kasih, bundaa.

  2. Reblogged this on Leila's Blog and commented:
    Tulisan Teh Ary Nilandari atau di grup forum penulis bacaan anak sering dipanggil Bunda Peri ini menjawab kegelisahan saya. Sebelum punya anak, saya hanya membeli beberapa buku anak bilingual dan membacanya selewat saja, karena biasanya saya lebih mengincar ilustrasinya yang keren atau karena memang suka dengan karya-karya penulisnya. Belakangan setelah punya anak dan saya sendiri lebih banyak terpapar materi yang asli berbahasa Inggris, begitu baca beberapa buku anak bilingual kok saya jadi mengerutkan kening. Ada saja terjemahan yang kurang pas, entah terlalu baku, tidak taat tata bahasa, atau malah salah sekalian. Ini umumnya terjadi pada buku karya penulis dalam negeri yang memang dikhususkan terbit dalam bentuk dwibahasa, bukan buku terjemahan. Bahasa Inggris saya juga nggak bagus-bagus banget sih, tapi seperti yang saya suka sampaikan pada teman-teman yang bertanya kenapa skor TEFL saya bisa segitu, ada perasaan tidak nyaman karena ada yang salah saat membaca. Belum tentu juga saya tahu persis koreksinya seharusnya bagaimana sih, hehehe, saya masih harus buka primbon dulu kalau soal itu…dan dari sinilah saya memang sebetulnya banyak belajar. Karena saya belajar bahasa Inggris dengan cara seperti ini (seringnya tidak mengkhususkan diri), saya jadi membayangkan bagaimana kalau anak-anak yang baru belajar bahasa asing sudah diberi contoh yang kurang tepat. Dari pengalaman dan pengamatan saya, apa yang diketahui atau dibaca anak sejak dini, apalagi kalau berulang-ulang (anak suka kan ya minta dibacakan sebuah buku berkali-kali) akan menjadi patokan baginya. Saya sampai berniat menyembunyikan beberapa buku anak bilingual yang telanjur dibeli karena grammar-nya keliru. Tapi kalau dipikir-pikir, nggak perlu seekstrem itu juga mungkin, ya. Bisa saja saya beri catatan khusus, toh isi ceritanya sendiri bagus dan mendidik. Apalagi saat ini sebenarnya anak-anak saya belum ada yang bisa baca, hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s